Berburu Rendang ke Ranah Minang

Minggu lalu SurgaMakan.com mendapatkan undangan istimewa dari SunCo, iya – minyak goreng yang baik – itu untuk berkunjung ke Sumatera Barat dalam rangka mencicipi makanan-makanan di sana. Undangan yang sulit ditolak tentunya karena : saya belum pernah ke Sumatera Barat, dan saya penggemar Masakan Padang. Eh, Masakan Minang.

Maka hari itu sekitar jam 9 pagi kami – saya dan beberapa rekan blogger dan media tiba di Bandara Udara Internasional Minangkabau dan dengan tak sabar lompat ke bis untuk menuju tempat perhentian pertama. Eh tapi ternyata di bis aja udah ada penganan-penganan khas Minang yang menyambut. Ada Pinukuik (asal katanya dari Pancake, dan bentukan plus rasanya mirip Kue Apem), Sala Lauak (mirip perkedel jagung tapi bentuknya bulat), dan Lamang Baluo (yang kalau di pesta adat Batak saya kenal dengan nama Lapet. Bentuknya aja yang beda).

Cemilan-cemilan yang disediakan di bis sama sekali nggak menyurutkan niat kami untuk makan banyak di Pasar Padang Panjang. Tujuan utamanya sudah jelas : Sate Mak Syukur. Langsung di tempatnya. Hmm… saya sebetulnya bukan penggemar sate padang sih tapi marilah kita coba yang satu ini.

Ternyata lagi tutup karena Jumatan. Gapapa Bang, asal satenya emang enak, neng tungguin kok. Tapi nunggunya sambil makan dong biar ga laper. Restoran Gumarang yang juga berlokasi di Pasar Padang Panjang adalah tujuan kami menghabiskan waktu sambil menunggu Sate Mak Syukur buka kembali.

Di Gumarang ini saya kenal lagi beberapa makanan yang sama sekali baru. Ada Es Kampiun, Sari Kayo Ketan. Pokat Ketan, Amping Dadih, dan Teh Talua yang sudah lama bikin saya penasaran pengen coba.

 

Yang paling membuat saya terkesan adalah Pokat Ketan. Siapa menyangka Ketan enak dimakan dengan Alpukat kan? Yang masih saya ingat sampai sekarang adalah Alpukatnya yang dingin seperti es. Pas banget paduannya dengan Ketan. Selama ini saya penggemar Ketan Mangga di Bangkok, kali ini Pokat Ketan juaranya.

Sesuai janji panitia, abis dari Gumarang kami melangkahkan kaki dengan pasti ke Sate Mak Syukur. Duduk manis dan nggak lama kemudian :

IMG_3644

yes, kalau kamu kayak saya yang suka menamping tawaran makan Sate Padang dengan alasan nggak suka, kamu mesti coba Sate Mak Syukur ini. Enak sekali! Dagingnya pas berpadu sama lemak, bumbunya panas dan rencana makan dengan Kerupuk Kulit alias Karupuak Jangek pun gagal karena kelupaan.

Dari Sate Mak Syukur kami melanjutkan perjalanan ke dalam Pasar Padang Panjang di mana kami menemukan yang namanya Pensi (semacam kerang/siput dari Danau Maninjau), Pragede (di Bandung namanya Perkedel Jagung), Serabi, dan masih banyak makanan lainnya.

Dari Pasar Padang Panjang kami kemudian meneruskan perjalanan ke Payakumbuh dan mampir di satu tempat asik yang bernama Tabek Patah Sangkar. Minum Kopi dengan pemandangan lembah, udara sejuk-sejuk mengarah ke dingin, siapa nolak?

Cerita tentang Kopi Kawa di Tabek Patah Sangkar ini bisa disimak di blognya Mbak Terry ini. Ceritanya  asik kaya baca buku cerita.

IMG_4279

Kopi (yang sebenarnya bukan kopi) berpadu Gorengan memang tak pernah salah di belahan dunia mana pun.

Makan malam kami dijadwalkan di rumah kediaman Uni Emi. Beliau adalah sseorang ahli masakan Minang, yang juga adalah food advisor dari film Tabula Rasa dan dapurnya bahkan jadi salah satu lokasi syuting film itu. Di rumah Uni Emi ini kami belajar “marandang” atau merendang. Kalau selama ini kamu mengira rendang itu nama makanan, ternyata bukan lho. Rendang adalah cara memasak, dan harus sampe kering. Kalau masih basah-basah namanya Kalio, ujar Uni Emi sambil terus mengaduk dandangnya.

FullSizeRender

Bukan cuma belajar masak lho ya, di rumah Uni Emi kami juga disuguhi makan malam sambil duduk baselo, alias duduk bersila.

IMG_3766

Dari sekian banyak makanan yang disajikan, favorit saya adalah Balado Jariang alias Jengkol dimasak Balado. Anehnya, Jengkol buatan Uni Emi ini sama sekali nggak menyisakan bau. Nyesel deh makan cuma sedikit.

FullSizeRender(1)

Selain pandai memasak, Uni Emi ini super ramah!

Sebelum pulang kami dibekali pula yang namanya Rendang Kayu. Apakah ini Kayu yang dimasak dengan merandang? Oh bukan! Coba temukan jawabannya di postingan Tika yang ini.

Sarapan kami di hari kedua bertempat di Bofet Sianok. Tempat kecil namun hangat di tengah kota Payakumbuh. Kalau kamu punya waktu untuk mampir ke Payakumbuh, sempatkanlah makan pagi di sini.

Yes di sana Gado-gadonya pake Mie lho, dijamin kenyang sampai siang. Di Bofet Sianok ini juga saya menemukan Teh Talua yang paling enak yang pernah saya minum (alah baru juga minum dua kali).

Sebelum meninggalkan Bofet Sianok, seperti biasa : foto-foto dulu!

IMG_3862

Perjalanan kemudian diteruskan ke Rendang Riry karena kita mau liat proses pembuatan Rendang Telur atau Rendang Talua yang belakangan ini sering jadi oleh-oleh.

Selama ini saya nggak pernah kebayang apa sih Rendang Talua itu. Ternyata dibuat dari adonan Telur dan Terigu yang digoreng di wajan besar menyerupai pancake, kemudian digoreng lagi dengan minyak yang banyak (deep fried) kemudian dikasi Rendang.

IMG_4280

Selain Rendang Telur, di tokonya Rendang Riry juga kamu bisa menemukan yang namanya Rendang Jagung. Saya beli satu untuk dimakan dengan nasi panas di rumah

IMG_3884

Trus makan apa lagi?

Tenang, masih banyak!

Kamu suka Ayam Pop nggak? Saya sih tadinya ga gitu suka karena menurut saya sambalnya aneh dan nggak pedas.

Tunggu sampai kamu makan Ayam Pop langsung di tempat di mana pertama kali Ayam Pop diciptakan di dunia ini baru komentar lagi.

Iya, team SunCo dan Mas Arie Parikesit dari Kelana Rasa mengajak saya dan teman-teman makan di Rumah Makan Family di Bukit Tinggi. Bukan cuma Ayam Pop sih, ada juga makanan-makanan lain yang bikin mulut ini nggak mau bisa berenti ngunyah ; Martabak Mesir, Sate Danguang Danguang, dan masih banyak lagi.

Ayam Pop dan teman-temannya

Ternyata emang lain sih makan Ayam Pop langsung di tempatnya. Sambalnya lebih enak, Ayamnya lebih enak, semuanya lebih enak. Oya, entah kenapa suasanan makan di RM Family ini juga terasa hangat dan kayak makan di rumah teman lama aja gitu.

IMG_7183

(foto dari kameranya Tika)

Masih ada cerita makanan di Ranah Minang ini yang mau saya ceritakan. Nantikan, postingan dari Sumatera Barat ini ada jilid keduanya!

 

7 thoughts on “Berburu Rendang ke Ranah Minang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s