Mengenang Minang : Dari Lidah Turun ke Hati

Merayakan hari pertama puasa dengan postingan lanjutan dari Minang kemarin ah. Kalau kemarin udah sempat cerita sedapnya ketan-ketan dengan Pokat alias Alpukat dan Sarikayo, kali ini saya mau cerita nikmatnya makan Lamang Ketan alias, well, ketan ketan di Pical Sikai yang ada di Bukit Tinggi. Persisnya di mana?

Google aja, tempatnya kecil tapi terkenal banget kok.

IMG_4144

Sampai di Pical Sikai, yang pertama dipesan tentu Pical nya dulu lah ya. Sebagai penggemar Pecel Madura, saya sungguh penasaran pengen coba Pecel Padang yang disebut Pical ini. Bumbunya bisa dibilang sama persis, tapi sayuran di dalamnya yang sedikit beda. Di Padang, sayuran dalam Pecel ada Jantung Pisang dan Rebung. Sayuran lainnya sama sih, ga terlalu beda sama Pecel yang biasa kita temui di Jawa.

Pical ini dimakan bareng sama Keripik Singkong. Ini yang berbeda ya, karena di Bandung biasanya Keripik Singkong dimakan terpisah sebagai camilan. Keripik Singkongnya kering kriuk dan ga bau minyak, pasti digoreng dengan SunCo si minyak goreng yang baik itu deh.

Di tempat yang sama saya ‘kenalan’ juga dengan yang namanya Lontong Sayur khas Padang. Yang satu ini sih nggak terlalu beda dengan yang biasa kita temui di Jakarta atau di Bandung. Persamaannya : sama-sama enak🙂

IMG_4157

Sambil makan kami memang intip-intip panci-panci yang ada di meja. Serunya makan di Pical Sikai adalah makanan ada di meja persis depan kita. Bikin tambah selera dan bikin mau tambah apa-apa jadi mudah.

Panci pertama isinya bumbu kacang Pical. Panci kedua isinya sayur kuah untuk Lontong Sayur. Lalu apa isi panci ketiga?

Nah ini dia.

IMG_4163

Pernah tau yang namanya Lamang?

Menurut Bung Wiki, Lamang adalah beras ketan yang dimasak dengan santan dalam bambu muda. Bahan utamanya adalah beras ketan putih, santan kelapa, daun pandan, dan sedikit garam. Beras ketan dicuci bersihkan dulu dan dimasukan ke dalam ruas bambu muda yang terlebih dahulu dilapisi dalamnya dengan daun pisang kemudian baru dituangkan santan ke berasnya dan di bakar dengan bara api, dijaga jangan sampai ruas bambu terbakar.

Menu ini biasanya muncul saat Lebaran kan ya. Nah di Pical Sikai, Lamang Tapai termasuk salah satu menu sarapan. Yups, sarapannya Lamang Tapai. Bahagia banget bukan?

Nemu Lamang Tapai di Pical Sikai ini cukup bikin heboh rombongan kami pagi itu. Rere didaulat membungkus buat kami bawa pulang. Tak tanggung-tanggung, masing-masing kami bungkus 10 potong per orangnya. Walau udahnya berisik karena membawa Tapai ke dalam pesawat tentunya harus pake trik. Jangan dimasukkan ke wadah yang tertutup rapat dan tentu saja nggak boleh masuk bagasi. Saya yang biasanya malas bawa-bawaan ke kabin pun bela-belain menenteng Lamang Tapai ini dari Padang sampai ke Bandung.

Pical Sikai ini memang berkesan. Makan mengelilingi meja penuh makanan, rasanya nyaris seperti mengelilingi meja makan di rumah sendiri🙂.

IMG_4201

Salah satu tempat makan yang membekas sampai sekarang di hati adalah Pongek Or Situjuah. Or di sini bukan artinya “atau” ya, tapi nama yang punya. Kebetulan siang itu kami juga sempat bertemu dengan Uda Or yang ramah.

Tak cuma ramah, Uda Or juga menyajikan makanan yang ruaaarrrr biasa di tempat makan miliknya. Intip yuk satu-satu,

Ada Balui Kasiak Balado alias Balado Belut, Pongek Jantung Pisang, Ikan Bakar, dan Jariang Bakar Lado Mudo alias Jengkol Bakar dengan Sambal Hijau. Makan di sini berasa seperti ‘makan besar’ dengan begitu banyak lauk yang tersaji di meja makan. Suasana makan pun seru jadinyaIMG_4989

Foto : Tika

Makan siang yang sangat berkesan. Selain makanannya nikmat tiada tara, teman-teman kiri kanan depan belakangnya seru semua, sungguh laff.

Perhentian lainnya adalah di Pasar Bawah Bukit Tinggi di mana di satu bagiannya ada yang namanya Los Lambung alias : Los Makan Serba Ada

DSCN2999

Di dalam Los Lambung ini memang banyak sekali penjual makanan dan hampir semuanya menjual : Nasi Kapau. Iya, Nasi Kapau dengan menu andalan : Tambusu, atau Usus Sapi yang dimasak kuning dan diisi telur dalamnya.

Tempat makan lain yang juga berkesan di kunjungan SurgaMakan bersama SunCo ke Sumatera Barat kemarin adalah Rumah Makan Pagi Sore yang terletak di Kampung Cina Kota Padang.

DSCN3058

Apa yang membuat tempat makan ini lain dari tempat makan lain di Sumatera Barat? Karena masakan Minang yang satu ini disebut Minang Peranakan, sehingga beberapa menunya tidak bisa ditemui di tempat lain dan memang unik plus nikmat banget.

Dari sekian banyak makanan yang tersaji di meja, ada Ayam Goreng panas (nama dan tampangnya biasa aja, tapi rasanya sungguh luar biasa. Saya habis empat potong!), ada juga Rimbang Lado Mudo, Tahu Tauco, Balado Jariang, Kalio Kacang Putiah dan yang ter-favorit di Pagi Sore adalah Itiak Lado Mudo.

Rumah Makan Pagi Sore ini juga adalah tempat makan dengan suasana hangat dan bikin selera makan meningkat dua kali lipat.

IMG_4255

Seperti diceritakan tadi, Pagi Sore adalah tempat makan Minang Peranakan, maka interior disainnya pun khas dengan sentuhan gaya oriental kan.

Perjalanan penuh makan enak dan ketawa-ketawa bersama teman-teman blogger dan media bersama SunCo ini kemudian ditutup dengan yang manis dan segar, Es Campur plus Es Duren!

Penggemar Duren tentu saja akan pilih Es Campur dengan Duren, atau sekalian Es Durennya saja. Yang tidak doyan Duren, jangan khawatir, masih ada pilihan Es Campur dengan rasa yang segar dan sempurna menutup weekend🙂

13 thoughts on “Mengenang Minang : Dari Lidah Turun ke Hati

    • suka nggak Cum? apa lebih suka pecel-pecel yang bisa kita temui di Jawa?
      Trus kita kapan dong makan Pical bareng-bareng sambil bersenda gurau gituh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s